Remang cahaya senja membalut sekitar. Langkah kaki pelan terhenti deidepan sebuah gerbang. Tak butuh waktu lama gerbamg sudah terbuka dan seorang pria memasukinya. Setelah menggembok kembali, langkahnya menuju pintu masuk sebuah ruma yang sekitar 6 bulan jarang ia kunjungi. Gagang pintu ditekan kebawah dengan sebuah dorongan, pintu terbuka. Suara lonceng kecil berdenting. Ia masuk dan menuju sebuah ruangan dimana ia sering menghabiskan waktu. Dilihatnya seorang wanita duduk menatap keluar jendela. Warna jingga mulai pudah berubah menjadi gelap.
"Aku sudah disini dan aku tidak melihat kopi pesananku" ujar Si Lelaki
Si Wanita menoleh, "Mager kak" ujarnya sambil tersenyum.
Si Lelaki melangkah mendekati Adiknya. Duduk di lantai dengan bersandar pada sofa yang masih diduduki adiknya.
"Nanti biar ku buat sendiri" ucap Si Lelaki.
"Aku titip"
"Iya, iya"
Hening. Sesekali, Si Lelaki mengumbar pandang ke sekitar.
"Terima kasih ya" ucap Si Lelaki.
Sang Adik menoleh menatap kakaknya yang duduk dibawahnya. "Untuk ?" tanya Si Wanita
"Menjaga rumah ini" jawab Si Lelaki sambil berdiri. "Aku mau bikin kopi, kamu titip ?" lanjut Si Lelaki.
"He'em"
Hening lagi, yang terdengar hanya suara denting gelas dan kompor dari dapur.
"Kak" Si Wanita memecah keheningan.
"Apa ?"
"Menginaplah"
Si Lelaki tersenyum,"Itu seperti perintah, bukan permintaan" tanggapnya sambil mengalihkan pandang ke Adiknya.
Adiknya tak menjawab, hanya menatapnya.
"Okee, aku akan menginap. Sepertinya kamu memiliki rencana"
"Hanya satu"
Setengah alis Si Lelaku terangkat, "Apa ?"
"Hal yang sudah sangat lama tidak bisa kau lakukan"
"Sial. Jadi kau tidak mengijinkanku tidur"
Si wanita tersenyum,"Yes, tepat sekali"
Si Lelaki berbalik, menuntaskan seduhan kopi di kedua gelas yang sudah disiapkan tadi. Kemudian pergi kembali duduk ditempatnya tadi. Kedua gelas yang dibawanya ia letakkan di meja kecil disana. Sekilas, Si Wanita melirik sebentar dan bergegas keluar rumah. Kakak lelakinya hanya terbingung melihat tingkahnya. Tak lama, ia kembali dengan dua kresek di tangannya. dan menaruhnya diatas meja setelah memberi kode kepada kakaknya untuk mentaur gelas kopi yang baru dibuatnya.
"Oooo, jadi rencanamu sudah matang sekali" ucap Si lelaki setelah e,ihat beberapa makanan, minuman dan camilan yang dikeluarkan dari kantong kresek tersebut.
Si Wanita tak menjawab hanya tersenyum tipis, kemudian ia berjalan menuju dapur, membuka beberapa lemari kecil mencari sesuatu. setelah selesai ia berjalan dengan sebuah kotak ditangan. Arah yang dituju adalah saklar lampu. Tak butuh tenaga ekstra untuk menekannya, lampu disana mati. Si Wanita kemudian duduk dismaping kakaknya.
"Tolong asbak dibawah meja dan pinjam korekmu kak" Ucap Si Wanita.
Si Lelaki menuruti ucapannya.
"Makasih" Ucap Si Wanita sambil menerima sebuah asbak kaca dari kakaknya. Korek ia hidupkan dan mengarahkan sesuatu menggunakan tangan satunya. Korek mati. Namun ada yang terbakar disana.
Sebuah Lilin.
SI wanita memiringkan posisi lilin meneteskan beberapa tetes lilin cair ke asbak dan segera menancapkan lilin yang dipegang ke asbak tersebut. Kini, Sebuah Lilin menyinari ruang secara remang.
"HItungan ketiga ya" ucap Si Wanita lagi.
Si Lelaki mengerti maksudnya. Ia tak bisa membantah, karena mengetahui ucapan adiknya kali ini perintah. Dalam remang, ia dapat melihat wanita yang mengucir separuh rambutnya kebelakang didepannya, adik perempuannya, sedang memejam.
"Satu" ucap Si Wanita, dan Si Lelaki ikut memejam,
"Dua"
"Tiga"
Gelap.
Tiada cahaya dari api lilin yang baru saja menerima hembusan angin dari kedua sisi. Namun itu tak berlangsung lama. Si Wanita kembali membakar ujung lilin tadi Perlahan, cahaya remang kembali menyinari. Si Lelaki dapat melihat Adiknya tersenyum. Begitu pula Si Wanita.
Si wanita menyerahkan korek yang sedari tadi dipegangnya, "Terima kasih" ucapnya.
Si LElaki menerimanya dan kemudianmengeluarkan rokok dari tas kecilnya, "Ya sama-sama"
Satu rokoksudah terbakar. Si wanita menaruh asbak berisi lilin tadi keatas meja dan menggeser duduknya berada disebelah kakaknya.
"Sudah sangat lama" ucap Si wanita.
Si LElaki hanya mengangguk setelah menghembuskan asap rokoknya.
"Bagaimana kabar kalian berdua ?" tanya Si wanita sambil menoleh kekaknya.
"Salah" ucap SI Lelaki dengna mata melekat menatap lilin yagn terbakar.
"Maksutnya?"
"Bukan dua, tapi tiga" jawab Sang Kakak sambil terenyum menatap adiknya.
"Oh iyaa. Jadi bagaimana ?"
"Yaa baik. SAngat baik"
"Syukurlah. Aku harus berabar sekitar 5 bulan lagi ya"
"Yaps"
"Dia akan seperti siapa ya ?"
"Jika memang seperti itu, kuharap seperti kalian berdua. Dengan mengambil segala hal baiknya saja"
Si Wanita tersenyum penuh arti. Ia mengusap pelan kepala kakaknya.
Si Lelaki menoleh, "Relax, it's easy"
"Mau ku tuliskan seperti dulu ?" tanya Si Wanita.
Si Lelaki diam tak menjawab.
"Yaa. Biar kutuliskan saja setelah kamu meluapkannya" ucap Si Wanita yang langsung memeluk kakaknya.
"Aku tahu dengan segala yang kau pikul. Apa yang ada di kepalamu. Apa yang kau tinggalkan. Apa yang akhirnya kau taruh dan apa yang kau tahan. Setelah sekian lama, lakukan apa yang sulit kau lakukan sedari dulu selama semalaman ini, kak"
Si Lelaki tak mejawab. Namun, tubuhnya bereaksi dengan getaran kecil. Sang Adik masih memeluk dan mengusap kepalanya. perlahan, ia merasakan basah dipundak kirinya. Tempat dimana kakaknya membenamkan Wajah.